Tampilkan postingan dengan label Masa Depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Depan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

TUJUH (7) INFO DAN PERSEPSI SALAH TENTANG SBMPTN

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) merupakan salah satu jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berlingkup nasional. SBMPTN dilaksanakan serentak pada tanggal dan waktu yang sama di seluruh Indonesia. Seleksinya dilakukan secara terpusat oleh tim seleksi SBMPTN. Parameter penilaian di dalam SBMPTN adalah nilai tes dan nilai ujian keterampilan (untuk program studi tertentu).

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia SBMPTN ini, banyak sekali info bias yang berseliweran dan diragukan keabsahannya. Info-info tersebut muncul karena kurangnya kejelasan informasi dari panitia SBMPTN itu sendiri dan/atau kesalahpahaman sebagian orang, baik yang salah memahami informasi maupun yang salah berkaca pada pengalamannya. Kalau sudah seperti ini, kita bisa salah dalam menyusun strategi untuk SBMPTN dan akhirnya mengantarkan kita menuju kegagalan.

Kali ini, saya akan memaparkan tujuh info dan persepsi yang sering salah di dalam dunia SBMPTN. Setidaknya hal-hal yang saya paparkan di sini disimpulkan berdasarkan informasi dan pengalaman yang saya dapatkan selama kurang lebih setahun.



1. Nilai Mati



Bisa, kan, lulus SBMPTN? by yusuf-ananda.blogspot.com

Nilai mati adalah info bias yang paling ngetrend di dalam dunia SBMPTN. Banyak sekali jenis-jenis nilai mati yang beredar. Walau banyak jenisnya, nilai mati memiliki inti yang sama. Nilai mati adalah nilai atau skor yang menyebabkan kita langsung gugur jika mendapatkan nilai itu.

Ada yang bilang kalau kita mendapatkan nilai minus atau nol di salah satu mata uji SBMPTN, kita otomatis akan gugur. Ada juga yang bilang bahwa tidak masalah jika mendapat nilai minus atau nol di salah satu mata uji SBMPTN asalkan tidak ada mata uji yang “tidak diisi sama sekali”. Ada lagi yang bilang bahwa nilai mati itu adalah skor kurang dari 2,5 pada dua atau lebih mata uji. Masih banyak lagi jenis-jenis nilai mati yang beredar di luar sana.

Perlu diketahui, penilaian skor SBMPTN memiliki ketentuan sebagai berikut:
Mendapat 4 kalau jawaban benar.
Mendapat -1 kalau jawaban salah.
Mendapat 0 kalau tidak diisi.

Setiap mata uji memiliki 15 soal dan total mata uji dalam SBMPTN ada 10 mata uji (SBMPTN 2014).

Saya punya kesimpulan bahwa nilai mati dalam SBMPTN itu TIDAK ADA. Mengapa? Pertama, tidak ada ketentuan nilai mati seperti ini di laman Resmi SBMPTN ataupun dari panitia SBMPTN sendiri. Kedua, banyak peserta-peserta SBMPTN yang mengaku bahwa mereka tidak mengisi salah satu mata uji dan ada juga yang mengaku kalau mereka memiliki skor minus pada beberapa mata uji tapi nyatanya mereka LOLOS SBMPTN.

Selain itu, adanya nilai mati dalam SBMPTN malah membuat SBMPTN menjadi aneh. Bayangkan kalau semua peserta SBMPTN mendapatkan nilai mati. Masa iya tidak ada satu pun peserta yang diterima SBMPTN.

Seleksi masuk Perguruan Tinggi yang dengan jelas memiliki nilai mati adalah USM STAN (Ujian Saringan Masuk STAN).

2. Mengikuti Jalur IPC jika Ingin Lintas Jurusan
Anak IPC harus memborong semua soal by garaudynet.blogspot.com

Sebenarnya, poin nomor dua ini lebih tepat disebut salah persepsi daripada info bias. Katanya, kalau ingin lintas jurusan di SBMPTN, kita harus ikut jalur IPC. Misalnya, anak IPA mau memilih Akuntansi yang merupakan jurusan ranah IPS. Si anak IPA tersebut berarti harus mengikuti jalur IPC buat SBMPTN-nya.

Ini jelas sangat keliru. Telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya di laman resmi SBMPTN bahwa sistem pengelompokan jenis ujian (IPA, IPS, IPC) dalam SBMPTN tidak bergantung pada jurusan kita waktu di SMA, tetapi bergantung pada jenis program studi yang kita pilih. Jalur IPC harus kita ikuti jika kita memilih jurusan dari ranah IPA dan IPS. Misalnya, kita memilih Matematika Unpad (IPA), Fisika Unpad (IPA), dan Sastra Inggris Unpad (IPS).

3. Tempat Tes Memengaruhi Seleksi
Memilih tempat ujiannya yang terdekat, ya, agar tesnya tenang! by www.unsoed.ac.id

Poin nomor tiga ini merupakan info bias alias info salah. Sudah jelas disebutkan di dalam laman Resmi SBMPTN bahwa parameter penilaian dalam SBMPTN hanya nilai tes ditambah nilai ujian keterampilan (bagi program studi tertentu). Tidak ada ketentuan kalau tempat memengaruhi nilai tes atau penerimaan kita dalam SBMPTN. Kita dapat memilih tempat tes sesuka hati kita (syarat dan ketentuan berlaku).

“Tempat ujian tidak menjadi bahan pertimbangan dalam proses seleksi dan penentuan kelulusan seorang calon mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang dipilihnya.” (Laman resmi USM ITB Terpadu)

4. Peserta Bidikmisi dan Non-Bidikmisi Dibedakan

Semangat Bidikmisi! By uiupdate.ui.ac.id

Menurut poin nomor empat, peserta Bidikmisi memiliki peluang atau kuota yang lebih kecil daripada peserta non-Bidikmisi. Hal ini keliru. Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan dari pemerintah, bukan jalur seleksi masuk PTN. Kembali lagi ke ketentuan SBMPTN – parameter penilaian adalah nilai tes – . Tidak disebutkan bahwa peserta Bidikmisi memiliki kuota sendiri.

Memang, setiap PTN memiliki kuota Bidikmisi masing-masing. Namun, hal ini tidak lantas membuat perbedaan antara peserta Bidikmisi dan non-Bidikmisi dalam jalur SBMPTN. Sekali lagi, yang berbicara dalam tes SBMPTN adalah nilai tes. Jika ternyata peserta Bidikmisi yang diterima di SBMPTN melampaui kuota di Bidikmisi di PTN tempat dia diterima, Dikti masih mempunyai kuota tambahan yang bisa dialokasikan sesuai kebutuhan.

Info tambahan : Statement ini diperkuat dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Bapak Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, MS, pada acara pembekalan mahasiswa Bidikmisi Unpad. Beliau menyatakan bahwa dalam seleksi SBMPTN, background peserta tidak dilihat. Yang dilihat hanyalah nilai tes. Jika peserta SBMPTN pelamar Bidikmisi yang diterima melebihi kuota, peserta tersebut tetap diterima.

5. Penilaian SBMPTN Menggunakan Sistem Passing Grade Persentase
Statistik nilai SBMPTN 2014 by twitter.com/kemdikbud_ri

Passing Grade merupakan suatu nilai patokan untuk lulus di suatu program studi. Biasanya berupa persentase. Misalnya, Passing Grade Matematika Unpad adalah 36%. Berarti, untuk lolos di program studi Matematika Unpad, kita minimal harus mendapatkan skor 36% dari skor sempurna. Passing Grade biasanya dibuat oleh bimbingan belajar atau lembaga-lembaga tertentu sebagai acuan/patokan untuk lolos di satu program studi. Passing Grade sendiri sebenarnya tidak ada dalam SBMPTN.

Namun, banyak yang salah persepsi tentang Passing Grade. Banyak yang berpikir kalau Passing Grade itu benar-benar ketentuan dan sistem seleksi yang resmi dalam SBMPTN. Ini jelas keliru. Kalau memang benar seleksi SBMPTN menggunakan Passing Grade, mengapa yang ditampilkan di laman Resmi SBMPTN adalah daya tampung dan jumlah peminat tahun sebelumnya? Bukan Passing Grade-nya?

Prinsip seleksi SBMPTN adalah “menjaring”. Misalnya, program studi Agribisnis Unpad mempunyai kuota 45. Berarti, yang akan diterima di Agribisnis Unpad adalah 45 peserta nilai tertinggi. Jika SBMPTN menggunakan sistem Passing Grade dan ternyata ada 100 peserta yang memenuhi Passing Grade tersebut, akan dike-mana-kan 55 orang yang lain? Masa bawa kursi sendiri dari rumah. Tidak mungkin, ‘kan?
Jadi, jangan sampai salah memahami Passing Grade. Passing Grade hanya patokan/acuan, bukan sistem seleksi resmi dalam SBMPTN.

6. Pembobotan Mata Uji pada Setiap Program Studi Berbeda
Jangan cuma fokus ke satu mata uji, ya! by www.planetyar.com

Sepertinya, info bias ini muncul karena pemikiran awam. Menurut info bias nomor enam ini, bobot setiap mata uji berbeda-beda tergantung program studi yang dipilih. Misalnya, bobot mata uji Biologi lebih tinggi dari Fisika jika kita memilih program studi Pendidikan Dokter. Jadi intinya, menurut info ini, kita harus meningkatkan skor mata uji yang sesuai atau relevan dengan program studi yang dipilih.

Info nomor enam ini jelas keliru karena info yang ada di dalam laman Resmi SBMPTN justru kontradiktif dengan info ini. Dalam laman resmi SBMPTN, disebutkan bahwa “Setiap mata uji bernilai sama dan tidak ada yang diabaikan”. Jadi sudah jelas bahwa bobot setiap mata uji adalah sama.

“Penilaian dilakukan secara menyeluruh. Oleh karena itu, setiap mata uji harus dikerjakan sebaik mungkin dan tidak ada yang diabaikan.” (Laman resmi SBMPTN)

7. Ada PTN yang Tidak Ingin Dinomorduakan
Pilih yang mana, ya? by infoduniakampus.blogspot.com

Dalam SNMPTN (Bukan SBMPTN), banyak beredar info kalau ada beberapa PTN yang tidak ingin dijadikan pilihan kedua. Dan memang, jarang sekali peserta SNMPTN yang diterima di pilihan kedua atau ketiga. Terlepas apakah benar ada PTN yang tidak ingin dinomorduakan atau karena sistem seleksinya berbeda, yang jelas, fakta berkata demikian.

Namun, hal ini tidak berlaku di dalam SBMPTN. Mengapa? Karena sistem penyeleksian SBMPTN terpusat oleh sebuah sistem – tidak diseleksi oleh masing-masing PTN –. Salah satu buktinya yaitu banyak peserta SBMPTN yang diterima di pilihan kedua atau ketiga, tidak seperti SNMPTN.

Ya, bagaimanapun juga, penguasaan informasi merupakan hal penting dalam peperangan. SBMPTN ibarat peperangan. Jadi, penguasaan informasi mutlak penting jika kamu benar-benar ingin tembus masuk PTN.

Semoga, artikel saya ini bisa membantu kalian yang khususnya sedang dilanda euforia seleksi masuk PTN. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Siapkan amunisi se-dini mungkin.



“Ingat, di saat kamu sedang bersantai-santai, ribuan sainganmu sedang belajar!”

Sabtu, 27 April 2013

Cerita Pendek Renungan : Akibat Menghina Al-Qur'an

Ketika sedang asyik facebook-an, saya tiba-tiba tertarik dengan status salah satu fanspage. Isinya adalah sebuah cerita pendek mengenai akibat seseorang menghina kitab suci umat Islam, Al-Qur'an. Berikut saya kutip dari fanspage-nya.

Ilustrasi
Dosen: "Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara Amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al- Quran? Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok. Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."

Meskipun pongah, namun banyak  mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen. Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahuapa yang akan terjadi selanjutnya.

Mahasiswa: "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini."ujarnya - sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

"Hhuuhhh...."se mua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres. Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injak - diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh. Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.

Dosen: "kamu?! Berani melecehkan saya?! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?! Lancang kamu ya?!"

Si dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: "Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak. Ngapain bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak. Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??"

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat...!!

"Itulah salah satu hukuman langsung dari Allah Ta'ala bagi siapa saja yang ingin mempermainkan atau mencaci maki Agama-Nya."

Subhanallah...

Dikutip dari Pop Corn.

Saya harap kutipan ini dapat bermanfaat bagi Anda. Semoga cerita ini dapat menjadi renungan bagi kita semua.

Lika Liku SNMPTN 2013 Part 2

Post ini adalah lanjutan dari post ini.

Oke lanjut ke tahap 'kegalauan' kedua,.

Pemilihan Program Studi / Jurusan

Ilutrasi pemilihan jurusan
Oke. Selain pemilihan PTN, pemilihan prodi juga tidak kalah pentingnya. Karena jika kita salah memilih prodi, kita tidak akan nyaman ketika kuliah. Ini buruk kan? mubazir waktu, mubazir biaya. Apalagi kalau ingin pindah jurusan harus nunggu SNMPTN periode selanjutnya alias 1 tahun (OMG).

Prioritas pertama dan yang paling pertama dalam pemilihan prodi adalah "minat" atau "keinginan". Ini penting karena dengan jurusan itulah nanti kita akan bergelut selama kurang lebih 4-7 tahun. Kalau Anda menyukai pelajaran eksak dan tidak menyukai pelajaran Ekonomi, maka jangan memilih jurusan Ekonomi atau Anda lebih memilih kasus di atas terjadi pada Anda (mengerikan). Jadi ingat ya, pilih jurusan yang benar-benar "sesuai dengan hati" OK!

Prioritas kedua, sesuaikan passing grade jurusan dengan prestasi akademik (nilai) kita. Karena jika kita memilih prodi yang memiliki tingkat kesulitan di atas nilai kita maka peluang masuknya juga akan semakin kecil. Tapi ini jangan dijadikan patokan utama lho! Tetap prioritas minat jurusan adalah yang utama. Misal Anda memilih jurusan Kedokteran karena alasan peluang padahal Anda suka pelajaran yang berbau seni. Otomatis meskipun ada diterima, kasus 'pemubaziran waktu' seperti yang saya sebutkan di atas akan terjadi pada Anda.

Saya sendiri berasal dari SMK. SMK memang kecil peluangnya untuk masuk PTN lewat SNMPTN undangan karena sistem seleksinya menggunakan nilai raport yang otomatis berbeda kurikulumnya dengan SMA. Tapi dicoba tidak salah kan? Toh juga di universitas pilihan pertama saya (UNPAD) sistem seleksinya membolehkan lintas jurusan bebas (IPA, IPS, SMK) ke mana saja (kecuali Kedokteran dan Kedokteran Gigi, harus SMA IPA).  Dan meskipun saya gagal di SNMPTN ini, masih ada SBMPTN (tes tulis). Di aman ada kemauan, di situ ada jalan (:o jreng).

Lho... kamu sendiri pilih prodi apa Ndra? oke saya kasih tau. Karena minat saya pada pelajaran komputer dan itung-itungan (eksak) begitu juga nilai rapornya, maka dengan ini saya putuskan saya pilih prodi berikut. Jreng... jreng... !!!

Jreng! Inilah Kartu Peserta SNMPTN Saya
Nilai Rapor

Faktor ini sengat berkaitan dengan faktor sebelumnya. Sekali lagi, sesuaikan prestasi akademik dengan passing grade jurusan, tetapi tetap minat nomor 1. Memang tidak ada passing grade resmi dari pihak PTN-nya, tapi passing grade yang ada di internet cukup memberikan gambaran.

Nilai saya juga tidak bagus-bagus amat, 'jelek' malahan. Nyesel? ya mau gimana lagi. Motivasi kuliah muncul pada diri saya ketika awal-awal kelas 2, tepatnya pas Prakerin / Magang. So, nilai-nilai di kelas 1 tidak bisa saya obrak-abrik dan saya hanya harus memperbaiki nilai-nilai di semester-semester selanjutnya.

Penasaran dengan rata-rata nilai raport saya per-semesternya? Yuk.. intip..!!
(Saya masukkan nilai rata-rata tanpa mulok (muatan lokal) karena sistem itulah yang dipakai di SNMPTN 2013)

Semester 1 : 75,00
Semester 2 : 80,50
Semester 3 : 77,01 (turun T_T)
Semester 4 : 84,50 (naik lagi ^_^)
Semester 5 : 86,06

Sebenarnya saya juga agak 'pesimis' juga karena ada nilai yang 'ngagejlig' alias turun. Gak tanggung-tanggung lagi turunnya -3,5. Kok bisa turun? Saat semester 3, KBM hanya dilaksanakan kurang lebih "satu bulan" karena sebagian besar waktu semester 3 dipakai untuk Prakerin / Magang. Ya.. tapi tetap harus semangat donk (chayo!). Kalau ini rezeki saya pasti tidak akan pergi ini. Ganbatte!!

Oke itulah sedikit gambaran SNMPTN 2013 versi saya. Saya yakin sebagaian besar siswa kelas 3 SLTA juga mengalami kegalauan yang serupa. Ayo tetap semangka (semangat kawan)! kita pasti dapat kuliah di perguruan tinggi yang kita inginkan. Amin YRA.

Jumat, 26 April 2013

Lika Liku SNMPTN 2013 Part 1


Bagi sebagian besar siswa-siswi kelas XII SLTA, SNMPTN adalah salah satu tahap yang paling menggalaukan. Bagaimana tidak, tahap ini merupakan satu dari sekian banyak tahap awal untuk menuju masa depan dan meraih cita-cita. Jenis kegalauannya bervariasi, mulai dari pemilihan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)-nya, pemilihan jurusannya, sampai galau karena twist nilai rapor. Dan saya cukup 'serakah' karena semua kegalauan tersebut saya borong. (:kejam)

Pemilihan Perguruan Tinggi

Logo SNMPTN
Inilah tahap yang lumayan memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan juga membuat otak berputar 100 keliling. Perguruan Tinggi yang kita pilih haruslah tepat dan sesuai dengan hati karena inilah tempat kita menimba ilmu nanti. Contoh hal yang harus dipertimbangkan adalah domisili, daerah PTN-nya sendiri, hingga passing grade PTN-nya. Semua itu harus kita benar-benar pertimbangkan dengan matang agar tidak menyesal di kemudian hari.

Bagaimana dengan saya? Ya... Saya sebenarnya termasuk orang yang 'rujit' dan terkesan pilih-pilih. Kadang juga ikut-ikutan sama temen. Tak tanggung-tanggung, rencana awal saya yaitu memilih ITB, Institut Teknologi terbaik se-antero Indonesia itu dalam SNMPTN ini. Alasannya? Ya... keren. Apa sih yang gak keren dari ITB. Dan alasan yang paling kuat sebenarnya bukan itu, tapi karena 'institut teknologi' jadi semua jurusan yang ada di ITB saya sukai. Yupz... saya asalah orang yang suka ilmu eksak dan IPA. Apalagi Matematika.

Tapi dengan berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk tidak memilih ITB. Tapi memilih tetangganya yang tidak kalah terkenal, yaitu UNPAD. Lho kok berubah pikiran? kok UNPAD sih? Saya memilih UNPAD karena menurut saya peluangnya besar. Kenapa besar?

Ada program UNPAD bernama "Unpad nya'ah ka jabar" (UNPAD sayang ke Jawa Barat). Dalam program itu, UNPAD memprioritaskan pendaftar calon mahasiswa baru yang berasal dari Jawa Barat (salah satunya saya :D). 2184 calon mahasiswa baru akan dipilih dari Jawa Barat dengan rincian 84 calon mahasiswa per-kabupaten / kota. So, karena kota saya termasuk kota yang kecil otomatis pesaingnya juga lebih sedikit ketimbang kabupaten-kabupaten besar seperti Bandung.

Udah mateng pilih UNPAD. Sekarang bingung lagi nih buat ngisi PTN pilihan 2. Meski gak wajib, tapi saya ingin mengambil peluang-peluang selagi masih bisa. Galau lagi deh 2 kali. PTN mana yang harus kujadikan pilihan ke-2? kurang bijak kalau rasanya memilih PTN yang grade-nya di atas UNPAD seperti UGM, UI, dll. Sama aja bunuh diri.

Kembali ke hobi saya di bidang eksak dan teknologi, saya putuskan untuk memilih 'adiknya ITB' yang terletak di kota pahlawan Surabaya. Ayo tebak PTN apa? Yupz. ITS. Saya memilih ITS sebagai pilihan kedua. Meskipun letaknya jauh dari tempat tinggal saya, tapi itu bukan masalah. Kurang bijak juga sih sebenarnya memilih Institut Teknologi ini karena grade-nya setara dengan UNPAD. Tapi gak apa-apa, prioritas utama tetap minat.

Bersambung ke Part 2. (To be continued)